Kritik seni "pasar burung ngasem" karya affandi
Pasar Burung Ngasem
Ditulis oleh: Devdan Maraville, Lanang Angin Semilir, Vincentius Yudisthira Eksa Prasetya
Hari Minggu, 9 Maret 2024, pada pukul berapa kami berkesempatan mengunjungi salah satu museum seni di Yogyakarta yaitu, Museum Affandi, Museum Affandi di Yogyakarta menyimpan banyak karya-karyanya dan menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang seninya.
Siapa itu Affandi?, Affandi adalah seorang pelukis ekspresionis, yang lahir pada 18 Mei 1907 di Cirebon dan wafat pada 23 Mei 1990 di Yogyakarta. Memiliki karya berupa sebuah lukisan, yang dilukiskan dengan sangat khas yaitu dengan aliran ekspresionis dan abstraknya, menciptakan ekspresi yang kuat, emosional dan mendalam pada karyanya. (Jl. Laksda Adisucipto No.167, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281).
Pada kunjungan tersebut kami menemukan satu karya seni oleh alm Affandi Koesoma yang sangat berkesan bagi kami, dan memutuskan untuk mengulik karya tersebut.
Karya seni yang kami ulik adalah karya seni dengan judul bukan secara lugas menuliskan kritik tetapi dengan bahasa mengilik/menggali lebih dalam makna lukisan. berjudul pasar burung di Jogja (Ngasem), karya Affandi. Karya ini dibuat diatas kanvas vertikal berukuran 128x97cm. Dibuat pada tahun 1979 di pasar burung ngasem. Menggunakan palet warna dominan coklat, hijau, kuning, biru, serta putih. Komposisi dari lukisan ini menurut kelompok kami sudah jelas, seperti menggambarkan suasana di pasar burung.
Tujuan dari dibuatnya karya ini yaitu menggambarkan suasana di suatu tempat yang menjadi favorit bagi Affandi, yaitu pasar ngasem. Makna yang cukup jelas kelompok kami pahami dari lukisan berikut.
Kita akan mulai menilik makna dari perpaduan dari goresan yang terdapat pada lukisan berikut ini. Pertama kali yang kelompok kami lihat mengenai lukisan ini, yaitu keramaian. Bisa dilihat keramaian dari goresan lukisan ini. Menurut kelompok kami, keramaian ini menggambarkan suasana pada saat lukisan ini sedang dilukis. Suasana yang begitu ramai pada pasar burung tersebut.
Goresan yang cocok sehingga langsung membuat pemikiran kami memahami bahwa itu adalah sebuah sangkar burung yang tergantung di pohon. Kami mengakui ini salah satu karya yang mudah untuk dipahami maknanya, karena beberapa lukisan Affandi sulit untuk dipahami.
Komposisi dari lukisan ini cukup jelas, menggambarkan suasana di pagi/siang hari dengan latar langit yang cerah berwarna biru bercampur dengan putih, dan dibawah langit terdapat warna coklat kuning yang menggambarkan tanah, pohon, dan sangkar burung.
Goresan dan bentuk yang tumpang tindih menciptakan kesan gerakan dan kekacauan. Sapuan kuas yang tebal dan ekspresif menciptakan tekstur yang kaya dan hidup. Tekstur ini memberikan dimensi tambahan pada lukisan dan memperkuat kesan emosionalnya. Goresan yang menggambarkan ini tentang sangkar burung juga terlihat jelas bahwa itu adalah sebuah sangkar burung.
Lukisan ini menggambarkan keramaian serta suasana yang ramai di pasar burung ngasem. Tempat yang menjadi suatu tempat favorit bagi Afandi direpresentasikan dalam karya seni lukisan. Merepresentasikan sebuah kesan seperti berada di tempat tersebut. Dilukiskan berdasarkan situasi asli.
Menurut kami pelukis ingin menggambarkan tempat favoritnya dengan warna-warna yang menggambarkan kebahagiaan seperti warna yang identik cerah. Begitu juga dengan bentuk-bentuk yang imajiner seperti bentuk sangkar burung yang meliuk-liuk, yang menurut kami merupakan suatu bentuk “pengindahan” dari tempat spesial tersebut.
Melalui lukisan ini , Affandi ingin menyampaikan pesan tentang perubahan sosial, ekonomi, dan budaya di Yogyakarta di tengah modernisasi Orde Baru. Pasar Ngasem berperan sebagai representasi perjuangan rakyat kecil untuk mempertahankan kehidupan mereka di tengah pergantian zaman yang mulai mengganti peran pasar rakyat dengan pusat perbelanjaan modern.
Affandi dengan ekspressionismenya mengajak pengunjung untuk berpikir tentang kehidupan pedagang kecil, bagaimana perdagangan burung menghubungkan manusia dengan alam, dan bagaimana perkembangan zaman bisa berdampak pada budaya lokal. Affandi tetap mempertahankan identitas artistiknya saat seni rupa Indonesia mulai berkembang dengan gaya yang lebih modern, menegaskan bahwa seni bukan sekadar karya visual tetapi juga sebagai bahan refleksi sosial.
~~~ Terima Kasih ~~~
Comments
Post a Comment